Website yang telah digunakan selama beberapa tahun tidak selalu harus dibuat ulang.
Selama website masih dapat digunakan dengan baik, informasi mudah ditemukan, tampil optimal di berbagai perangkat, mudah dikelola oleh tim internal, dan masih mendukung kebutuhan perusahaan atau organisasi, melakukan pembaruan secara menyeluruh mungkin belum menjadi prioritas.
Namun, perusahaan dan organisasi terus berkembang.
Layanan bertambah, program berubah, struktur organisasi berkembang, kebutuhan pengguna semakin kompleks, teknologi mengalami pembaruan, dan cara masyarakat menggunakan internet juga berubah.
Website yang sebelumnya cukup untuk mendukung kebutuhan organisasi dapat perlahan menjadi tidak lagi efektif.
Pada kondisi tersebut, melakukan revamp website dapat menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan.
Apa yang Dimaksud dengan Revamp Website?
Revamp website adalah proses memperbarui website existing agar lebih sesuai dengan kebutuhan pengguna, organisasi, dan perkembangan teknologi.
Berbeda dengan maintenance website yang biasanya berfokus pada perubahan kecil, pembaruan konten, atau perbaikan teknis, revamp website memiliki ruang lingkup yang lebih luas.
Proses revamp dapat mencakup evaluasi website existing, perubahan struktur informasi, perbaikan navigasi, UI/UX redesign, pembaruan visual, optimasi tampilan responsive, pengembangan ulang website, migrasi konten, hingga perubahan teknologi yang digunakan.
Revamp website juga tidak selalu berarti membangun semuanya kembali dari awal.
Dalam beberapa project, sebagian struktur, konten, teknologi, atau fitur existing masih dapat dipertahankan.
Karena itu, sebelum memulai revamp website, penting untuk melakukan evaluasi terhadap kondisi website dan kebutuhan organisasi.
Mengapa Website Perlu Dievaluasi Secara Berkala?
Website merupakan salah satu aset digital yang terus digunakan oleh perusahaan dan organisasi.
Calon pelanggan dapat menggunakan website untuk memahami layanan perusahaan.
Partner dan stakeholder dapat menggunakannya untuk melihat profil, pengalaman, program, laporan, serta aktivitas organisasi.
Tim internal menggunakan website untuk mempublikasikan informasi dan mengelola konten.
Seiring berjalannya waktu, kebutuhan tersebut dapat berubah.
Website yang dibuat tiga hingga lima tahun lalu mungkin masih berfungsi secara teknis, tetapi belum tentu masih memberikan pengalaman yang baik bagi pengguna atau mendukung kebutuhan organisasi saat ini.
Evaluasi website secara berkala membantu organisasi mengetahui apakah website masih relevan, efektif, dan layak untuk terus dikembangkan.
1. Tampilan Website Sudah Tidak Mencerminkan Identitas Perusahaan
Salah satu alasan perusahaan mempertimbangkan revamp website adalah perubahan identitas dan perkembangan bisnis.
Perusahaan mungkin telah memiliki layanan baru, target market yang berbeda, positioning baru, brand identity yang diperbarui, atau skala organisasi yang lebih besar.
Namun, website masih menampilkan perusahaan seperti beberapa tahun sebelumnya.
Akibatnya, terdapat kesenjangan antara kondisi perusahaan saat ini dengan bagaimana perusahaan dipresentasikan melalui website.
Revamp dapat membantu menyelaraskan kembali website dengan identitas, positioning, dan arah bisnis organisasi.
2. Pengguna Kesulitan Menemukan Informasi
Website yang terus berkembang sering mengalami penambahan halaman dan konten tanpa perencanaan struktur informasi yang memadai.
Menu menjadi semakin banyak.
Halaman penting sulit ditemukan.
Informasi tersebar di berbagai bagian website.
Pengguna membutuhkan terlalu banyak langkah untuk mencapai informasi yang mereka cari.
Jika persoalan utama berada pada struktur informasi dan navigasi, mengganti tampilan visual saja tidak cukup.
Diperlukan evaluasi terhadap sitemap, information architecture, user flow, navigasi, dan prioritas konten sebelum melakukan redesign.
3. Website Tidak Optimal Digunakan Melalui Smartphone
Pengguna mengakses website melalui berbagai ukuran perangkat.
Website yang dirancang beberapa tahun lalu mungkin memiliki tampilan mobile, tetapi belum memberikan pengalaman penggunaan yang optimal.
Beberapa tanda yang dapat diperhatikan adalah teks sulit dibaca, tombol terlalu kecil, navigasi sulit digunakan, tabel tidak responsive, layout tidak konsisten, gambar terlalu besar, atau pengguna harus melakukan zoom untuk membaca konten.
Jika sebagian besar pengguna mengakses website melalui smartphone, kualitas pengalaman mobile perlu menjadi bagian penting dalam evaluasi website.
4. Tim Internal Kesulitan Mengelola Website
Website tidak hanya digunakan oleh pengunjung.
Di balik website terdapat tim internal yang perlu melakukan berbagai pekerjaan seperti memperbarui halaman, mengunggah berita, mengganti banner, menambahkan program, mengunggah dokumen, dan mengelola berbagai informasi lainnya.
Jika setiap perubahan kecil selalu membutuhkan bantuan developer, website dapat menjadi sulit dan mahal untuk dikelola.
Revamp website dapat menjadi kesempatan untuk mengevaluasi Content Management System, workflow pengelolaan konten, struktur backend, dan kebutuhan tim internal.
Tujuannya adalah membuat website lebih mudah digunakan tidak hanya oleh pengunjung, tetapi juga oleh tim yang mengelolanya.
5. Performa Website Semakin Lambat
Kecepatan website dapat menurun seiring bertambahnya konten, plugin, script, integrasi, dan perubahan yang dilakukan selama bertahun-tahun.
Website yang lambat dapat memengaruhi pengalaman pengguna.
Beberapa persoalan performa dapat diperbaiki melalui maintenance dan technical optimization.
Namun, jika persoalannya berasal dari struktur teknologi, theme, codebase, server configuration, atau arsitektur website yang sudah sulit dikembangkan, revamp dapat menjadi pilihan yang lebih efektif dalam jangka panjang.
6. Website Sering Mengalami Masalah Teknis
Error yang terus berulang merupakan salah satu tanda website perlu dievaluasi lebih lanjut.
Misalnya, form tidak berfungsi, halaman mengalami error, plugin tidak kompatibel, layout rusak setelah update, fitur tertentu tidak dapat dikembangkan, atau developer kesulitan memahami struktur codebase existing.
Melakukan perbaikan berulang pada sistem yang sudah tidak sehat dapat membutuhkan biaya dan waktu yang lebih besar dibandingkan memperbarui fondasinya.
Technical assessment dapat membantu menentukan apakah website masih layak dipertahankan, membutuhkan maintenance besar, atau sebaiknya dikembangkan kembali.
7. Website Sulit Dikembangkan untuk Kebutuhan Baru
Perusahaan dan organisasi terus berkembang.
Website mungkin perlu terhubung dengan sistem lain, memiliki fitur multilingual, menyediakan directory, menambahkan landing page campaign, mengintegrasikan API, menyediakan dashboard, atau mendukung kebutuhan digital lainnya.
Namun, teknologi dan struktur website existing belum tentu mendukung kebutuhan tersebut.
Jika setiap penambahan fitur membutuhkan workaround yang semakin kompleks, organisasi perlu mempertimbangkan apakah mempertahankan website existing masih menjadi keputusan yang efisien.
8. Konten Website Sudah Tidak Relevan dengan Kondisi Organisasi
Website yang jarang dievaluasi dapat memiliki banyak konten yang tidak lagi relevan.
Informasi layanan lama masih ditampilkan.
Profil tim belum diperbarui.
Program yang sudah selesai masih menjadi konten utama.
Halaman yang tidak lagi digunakan tetap berada dalam navigasi.
Dokumen sulit ditemukan.
Melakukan revamp merupakan kesempatan untuk melakukan content audit.
Organisasi dapat menentukan konten mana yang perlu dipertahankan, diperbarui, digabungkan, dipindahkan, atau dihapus.
9. Website Tidak Menghasilkan Inquiry atau Mendukung Tujuan Bisnis
Website yang memiliki banyak pengunjung belum tentu efektif.
Perusahaan perlu melihat apakah pengguna memahami layanan yang ditawarkan, mengetahui langkah berikutnya, dapat menemukan informasi kontak, melakukan inquiry, mendaftar program, mengunduh dokumen, atau melakukan aktivitas yang menjadi tujuan website.
Jika website tidak memiliki user journey dan Call to Action yang jelas, perubahan struktur dan pengalaman pengguna mungkin diperlukan.
Revamp website dapat membantu mengubah website dari sekadar media informasi menjadi aset digital yang lebih efektif untuk mendukung tujuan organisasi.
10. Website Dibangun Lebih dari Tiga hingga Lima Tahun Lalu
Usia website bukan satu-satunya alasan untuk melakukan revamp.
Website yang dibangun lima tahun lalu tetapi masih cepat, mudah digunakan, aman, mudah dikelola, dan relevan dengan kebutuhan organisasi belum tentu perlu dibuat ulang.
Namun, website yang telah digunakan selama beberapa tahun sebaiknya mulai dievaluasi.
Dalam periode tersebut, kebutuhan organisasi, perilaku pengguna, konten, teknologi, perangkat, standar accessibility, dan ekspektasi terhadap pengalaman digital dapat mengalami perubahan.
Karena itu, usia website sebaiknya digunakan sebagai momentum untuk melakukan review, bukan sebagai alasan otomatis untuk melakukan redesign.
Maintenance, Redesign, atau Revamp Website?
Tidak semua website membutuhkan revamp.
Jika persoalan hanya berupa perubahan teks, gambar, banner, informasi kontak, upload dokumen, atau perbaikan minor, website maintenance mungkin sudah cukup.
Jika teknologi website masih baik tetapi tampilan visual dan user experience perlu diperbarui, UI/UX redesign dapat menjadi pilihan.
Namun, jika persoalan mencakup struktur informasi, user experience, visual design, teknologi, pengelolaan konten, performa, dan kebutuhan pengembangan jangka panjang, revamp website dapat menjadi pendekatan yang lebih sesuai.
Karena itu, melakukan website assessment sebelum menentukan solusi dapat membantu organisasi menghindari investasi yang tidak diperlukan.
Apa Saja yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Melakukan Revamp Website?
Sebelum menghubungi website development partner, perusahaan atau organisasi dapat mempersiapkan beberapa informasi.
Pertama, tentukan persoalan utama dari website existing.
Kedua, identifikasi tujuan yang ingin dicapai melalui website baru.
Ketiga, kumpulkan feedback dari tim internal dan pengguna website jika tersedia.
Keempat, lakukan inventarisasi konten, fitur, dan integrasi yang masih digunakan.
Kelima, tentukan siapa saja stakeholder yang terlibat dalam proses pengambilan keputusan.
Keenam, persiapkan gambaran timeline dan budget yang tersedia.
Informasi tersebut akan membantu proses discovery dan perencanaan project menjadi lebih efektif.
Proses Revamp Website Bersama HIJR
HIJR membantu perusahaan dan organisasi melakukan revamp website melalui proses yang disesuaikan dengan kebutuhan project.
Proses dapat dimulai dari initial discussion dan review terhadap website existing.
Tim kemudian membantu mengidentifikasi masalah, kebutuhan pengguna, tujuan organisasi, konten, fitur, dan kondisi teknis website.
Berdasarkan hasil tersebut, ruang lingkup project dapat mencakup website audit, sitemap dan information architecture, wireframe, UI/UX design, website development, content migration, quality assurance, User Acceptance Testing, deployment, hingga maintenance setelah website diluncurkan.
Kami percaya proses revamp website sebaiknya tidak dimulai dengan pertanyaan:
“Seperti apa tampilan website baru yang diinginkan?”
Tetapi dengan pertanyaan:
“Masalah apa yang ingin diselesaikan melalui website baru?”
Dengan memahami persoalan tersebut, keputusan design dan teknologi dapat dibuat dengan dasar yang lebih jelas.
Mengapa Memilih HIJR sebagai Partner Revamp Website?
HIJR telah mengerjakan project design dan digital sejak 2014.
Kami memiliki pengalaman dalam UI/UX design, website development, website revamp, dan maintenance untuk perusahaan, NGO, organisasi, institusi, dan berbagai stakeholder.
Dengan design dan development dalam satu tim, kami dapat membantu proses mulai dari evaluasi kebutuhan, perencanaan user experience, visual design, development, hingga dukungan setelah website diluncurkan.
HIJR berbasis di Bogor dan bekerja secara remote maupun hybrid dengan klien dari berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri.
Pendekatan kami bukan hanya membuat website terlihat baru.
Kami membantu perusahaan dan organisasi membangun website yang lebih mudah digunakan, dikelola, dan dikembangkan untuk kebutuhan jangka panjang.
FAQ Revamp Website
Apa perbedaan redesign dan revamp website?
Redesign biasanya berfokus pada pembaruan tampilan visual dan pengalaman pengguna.
Revamp memiliki ruang lingkup yang lebih luas dan dapat mencakup perubahan struktur informasi, konten, UI/UX design, teknologi, fitur, serta pengembangan ulang website.
Berapa biaya revamp website?
Biaya bergantung pada kondisi website existing, jumlah halaman, kompleksitas UI/UX design, fitur, teknologi, kebutuhan migrasi konten, integrasi sistem, dan timeline project.
HIJR melakukan initial discussion dan review sebelum menyiapkan estimasi biaya atau proposal.
Berapa lama proses revamp website?
Durasi project bergantung pada ruang lingkup pekerjaan.
Website perusahaan sederhana dapat membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan, sedangkan website organisasi atau platform dengan banyak stakeholder, konten, dan fitur dapat membutuhkan waktu lebih panjang.
Apakah website harus dibuat ulang dari awal?
Tidak selalu.
Tim perlu melakukan review terhadap design, teknologi, codebase, CMS, server, fitur, dan kondisi website existing terlebih dahulu.
Bagian yang masih relevan dan layak digunakan dapat dipertahankan.
Apakah HIJR dapat membantu memindahkan konten dari website lama?
Ya.
Content migration dapat menjadi bagian dari ruang lingkup project setelah jumlah, format, struktur, dan kondisi konten existing dievaluasi.
Apakah website tetap dapat digunakan selama proses revamp?
Pada banyak project, website existing tetap berjalan selama proses design dan development website baru dilakukan.
Website baru dapat dikembangkan melalui staging environment dan diluncurkan setelah proses review serta User Acceptance Testing selesai.
Apakah Website Anda Sudah Membutuhkan Revamp?
Tidak semua website lama membutuhkan redesign atau pengembangan ulang.
Keputusan melakukan revamp sebaiknya didasarkan pada persoalan yang dihadapi pengguna, kebutuhan organisasi, kondisi teknologi, kemampuan pengelolaan konten, dan arah pengembangan website dalam beberapa tahun berikutnya.
Jika perusahaan atau organisasi Anda memiliki website yang sudah digunakan selama beberapa tahun dan mulai mengalami kesulitan dalam pengelolaan, pengembangan, performa, atau pengalaman pengguna, melakukan website review dapat menjadi langkah awal yang tepat.
HIJR dapat membantu melakukan initial discussion terhadap website existing dan memberikan rekomendasi pendekatan berdasarkan kebutuhan organisasi.
Ceritakan kondisi website, tantangan yang sedang dihadapi, dan rencana pengembangan digital organisasi Anda.
–
Pelajari portfolio lengkap website kami.
WhatsApp & Email: https://wa.me/6281316678847 (Sukmayadi, sukmayadi@hijrstudio.com)




